Waspada PMK Menjelang Hari Raya Idul Adha, Simak Penjelasan MUI Yogyakarta

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:06 WIB
Ilustrasi PMK/Surabaya-Kompas.com
Ilustrasi PMK/Surabaya-Kompas.com

VICTORYNEWS SUMBA TIMUR - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terus merebak membuat masyarakat cemas.

Pasalnya perayaan Hari Idul Adha 1443 Hijriah diawal bulan Juli kini semakin dekat.

Menyikapi hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta masyarakat agar tidak menyembelih hewan yang berpotensi terpapar PMK sebagai kurban.

Baca Juga: Warga Kampung Wundut Kesulitan Air Bersih

Dilansir sumbatimur.victorynews.id dari Pikiran-Rakyat.com Sabtu (21/5/2022) dengan judul "Bagaimana jika telanjur tak tahu hewan kurban yang disembelih terjangkit pmk mui menjelaskan".

“Hewan terpapar PMK itu kan berpenyakit, kalau ada hewan yang sehat sebaiknya kita tidak menggunakan hewan sakit karena akan berdampak pada hal-hal yang mudharat,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI DIY, KH Makhrus Munajat, saat ditemui di Universitas Gadjah Mada (UGM)  Yogyakarta, Jumat, 20 Mei 2022.

Pasalnya, sesuai dengan syariat Islam, menurut Makhrus dalam berkurban umat Muslim diwajibkan untuk memilih hewan yang sehat, tidak cacat fisik, dan cukup umur.

Baca Juga: Cacar Monyet Kian Meluas, Belanda Menjadi Yang Terakhir

“Bahkan yang (cacat) fisik pun kita tidak boleh misalnya tanduk hilang, hewan yang ekornya putus, telinganya hilang satu juga tidak boleh,” kata dia.

Oleh karena itu, kata dia, selama masih ada hewan ternak sehat untuk kurban, masyarakat diminta tidak memilih hewan yang terpapar atau pun bergejala PMK, termasuk juga hewan yang terkena penyakit lain seperti cacing hati atau antraks.

Kendati demikian, jika masyarakat telanjur tidak tahu bahwa hewan kurban yang disembelih ternyata terjangkiti virus PMK, hal tersebut tidak menjadi masalah dan dagingnya halal untuk dikonsumsi.

Baca Juga: Kasus Cacar Monyet Melonjak Di Inggris

“Ketika disembelih pun dagingnya halal dimakan. Dagingnya sah dimakan, masyarakat diimbau tidak panik menghadapi wabah PMK” ucap Makhrus, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman MUI.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Hendra Wibawa menjelaskan untuk menghindari hewan yang terpapar PMK, masyarakat bisa melihatnya melalui gejala-gejala yang ditimbulkan, seperti mulut melepuh dan lendir berlebih, demam, serta luka pada bagian kaki.

Secara ilmiah, menurut Hendra PMK bukan tergolong penyakit yang dapat ditularkan hewan kepada manusia (zoonosis). Sehingga, jika dagingnya dikonsumsi oleh manusia, tidak akan membahayakan.

Baca Juga: Raih 7 Juta Penonton, Tissa: Ini Film Horor Terlaris!

“Tidak membahayakan manusia, jadi risiko zoonosis-nya diabaikan karena belum ada penyakit PMK pada manusia. Ini berbeda dengan penyakit mulutnya manusia,” tutur Hendra.

Namun, tetap saja ada bagian-bagian yang harus dihindari untuk dikonsumsi, yakni kaki, kepala, dan jeroan atau organ dalam hewan, karena organ tersebut dinilai paling banyak terpapar virus PMK. (Yudianto Nugraha/Pikiran Rakyat).***

Editor: Milia Dwiputri

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X