Bjorka Bocorkan Pembunuhan Munir, Begini Kronologinya

- Minggu, 11 September 2022 | 18:49 WIB
Munir Aktivis HAM Indonesia (Instagram @hanungbramantyo dan Pexels Tima Miroshnichenko)
Munir Aktivis HAM Indonesia (Instagram @hanungbramantyo dan Pexels Tima Miroshnichenko)

VICTORYNEWS SUMBA TIMUR - Hacker Bjorka kini sedang menjadi perbincangan hangat disosial media, Minggu (11/9/2022).

Bahkan yang menghebohkan adalah Bjorka membocorkan aktor utama pembunuhan aktivis HAM Munir yakni Muchdi Purwopranjono.

Bjorka menuliskan sebuah link yang dihubungkan dengan aplikasi telegram melalui postingan Twitternya.

Baca Juga: Menteri PUPR Basuki Hadimuljono Minta Satker Rapikan Lokasi Bendung Kambaniru

"Ya saya tahu kalian telah menunggu ini. Jadi siapa yang membunuh orang baik ini (Munir)?," tulis Bjorka dikutip sumbatimur.victorynews.id dari akun Twitternya @bjorkanism.

Dalam link tersebut berisi surat yang menjelaskan terkait profil Muchdi Purwopranjono beserta NIK dan KK yang kemudian tersebar luas.

Bjorka juga menuliskan kronologi pembunuhan Munir, yang berdasarkan isi pesan telegram tersebut, yakni bunyinya sebagai berikut.

Baca Juga: Kunker ke Sumba Timur, Ini yang Dilakukan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono

"Saya akan memberi Anda nama jika Anda bertanya siapa yang berada di balik pembunuhan Munir. Dia adalah Muchdi Purwopranjono yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Berkarya.

Munir adalah koordinator KontraS yang sangat vokal mengungkapkan bahwa pelaku penculikan 13 aktivis periode 1997-1998 adalah anggota Kopassus yang dikenal dengan Tim Operasi Mawar.

Akibat pengungkapan itu, Muchdi Purwopranjono, Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, menjadi tidak senang dengan Munir. Akibatnya, Muchdi harus diberhentikan dari jabatan barunya selama 52 hari.

Baca Juga: Kian Memanas Bjorka Bongkar Aktor Dibalik Kematian Munir, NIK dan KK Tersebar Luas

Muchdi diangkat menjadi Kepala Deputi V BIN pada 27 Maret 2003. "Posisi yang membuka banyak peluang untuk menghentikan aktivitas korban mendiang Munir yang merugikan terdakwa,"

Muchdi memanfaatkan jaringan nonorganik BIN, Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot PT Garuda Indonesia Airways, untuk membunuh jiwa Munir. Karena saat itu diketahui Munir akan terbang ke Belanda menggunakan Garuda Indonesia.

Pollycarpus kemudian ditempatkan sebagai staf keamanan penerbangan sehingga dia bisa mengambil penerbangan PT Garuda Indonesia Airways, termasuk pesawat yang nantinya akan ditumpangi Munir.

Baca Juga: Isu Kebudayaan menjadi Isu Penting Yang di Bahas Dalam Rangkaian G20

Lebih lanjut dijelaskan bagaimana Pollycarpus membuat surat rekomendasi kepada PT Garuda Indonesia Airways untuk ditempatkan di corporate security. 

Draf surat itu diketik Pollycarpus menggunakan komputer di ruang staf Deputi V BIN. Setelah selesai, surat itu kemudian dikoreksi oleh saksi Budi Santoso yang sempat bertanya, "Ini untuk apa?"

Polly menjawab, "Pak, saya mau ikut corporate security karena banyak masalah di Garuda." Budi Santoso juga bersedia mengoreksi surat tersebut karena mengetahui Polly adalah jaringan nonorganik Muchdi.

Baca Juga: Sukses Gelar MPAB, Begini Kata Panitia Hingga Ketum KMK Fisip Undana Sampai Jadi MPAB Terunik

Polly kemudian membawa surat itu ke kamar Muchdi. Selang beberapa hari, Polly memberi tahu Budi Santoso, "Pak, saya mendapat tugas dari Pak Muchdi Purwopranjono untuk membunuh Munir."

Surat tersebut kemudian ditandatangani dan dimasukkan ke dalam amplop BIN bernomor R-451/VII/2004, yang kemudian diserahkan langsung oleh Polly kepada Indra Setiawan, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Airways. Polly akhirnya ditugaskan sebagai staf keamanan perusahaan seperti yang diminta.

Selanjutnya Polly menelepon ponsel Munir yang diterima Suciwati untuk menanyakan kapan Munir akan berangkat.

Suci menjawab bahwa suaminya akan berangkat Senin, 6 September 2004, dengan pesawat Garuda Boeing 747-400 nomor penerbangan GA-974.

Polly juga mengatur agar bisa ikut penerbangan sebagai extra crew. Polly seharusnya menjadi pilot utama untuk penerbangan ke Peking, Cina, dari 5 September hingga 9 September 2004.

Baca Juga: Hasil Pertandingan La Liga: Barcelona Menang, Sevilla Raih Kemenangan Perdana

Maka pada Senin malam, Polly berhasil menerbangkan pesawat bersama Munir yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Pukul 23.32 WIB, setelah terbang sekitar 120 menit, pesawat mendarat di Bandara Changi Singapura.

Polly yang sudah lebih dulu bertemu dengan Munir membawa korban ke Coffee Bean melalui Gerbang 42.

Munir menunggu Polly yang memesan dua minuman yang salah satunya sudah diberikan racun arsenik kepada korban. Munir menghabiskan minuman yang diberikan Polly.

Baca Juga: Pantai Lailiang Mutiara Tersembunyi yang Masih Jarang Dikunjungi

Selanjutnya, Munir kembali ke pesawat untuk melanjutkan penerbangan. Sementara itu, Polly kembali ke Jakarta. 

Selasa sekitar pukul 10.47, Polly menghubungi Budi Santoso dan mengatakan: "Menemukan ikan besar di Singapura."

Sementara itu, Munir meninggal dua jam sebelum pesawat mendarat di atas langit Rumania di Bandara Schipol Amsterdam, Belanda.

Berdasarkan hasil otopsi pihak berwenang Belanda, tubuh Munir mengandung 3,1 miligram racun arsenik. Ada proses pengadilan dalam kasus ini. Namun, tabir misteri tidak pernah terungkap dengan jelas.

Baca Juga: Sering Dengar G20, Ini Sekilas Tentang G20

Putusan hakim terhadap terdakwa Muchdi pada Rabu, 31 Desember 2008, jauh dari tuntutan jaksa 15 tahun penjara. "Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan merencanakan pembunuhan Munir, sesuai dakwaan jaksa," kata Ketua Majelis Hakim Suharto.

Tiga orang yang pernah duduk di kursi penjara atas tuduhan melakukan pembunuhan Munir menghirup udara bebas.

Indra Setiawan, mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia yang divonis majelis hakim karena ikut membuat surat palsu, telah dibebaskan setelah menjalani satu tahun penjara. 

Pollycarpus, yang dituduh sebagai algojo pembunuhan Munir, dibebaskan pada 28 September 2014. Sementara itu, Muchdi bahkan dibebaskan dari tuduhan merencanakan pembunuhan terhadap aktivis tersebut.

Baca Juga: Siapa Itu Bjorka, Hacker yang Beri Ancaman ke Indonesia Hingga Deretan Klaimnya

Tak lupa A.M Hendropriyono menjabat sebagai ketua BIN, dan Megawati menjabat sebagai Presiden. Jadi tidak mungkin seorang deputi bisa bertindak sendiri.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga berjanji akan menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu, salah satunya kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.

Janji Jokowi untuk menuntaskan kasus kematian Munir kembali ditagih. Karena sejak kontrak dibuat, kasus Munir masih dalam penanganan.

Kasus kematian Munir bahkan terancam kadaluarsa jika tidak ada penuntutan atau status pasien tidak berubah menjadi pelanggaran HAM berat. Apa yang terjadi dengan janji Anda Pak Presiden?".

Beginilah isi pesan telegram yang dibuat oleh Bjorka sebelumnya akun twitternya menhilang.***



Halaman:

Editor: Milia Dwiputri

Sumber: Victory News Sumba Timur

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pledoi Ferdy Sambo Dianggap Pakar Mubazir, Kok Bisa?

Kamis, 26 Januari 2023 | 18:16 WIB

Kecelakaan Mahasiswa Ini Sita Perhatian Publik

Kamis, 26 Januari 2023 | 13:00 WIB
X