Parona Baroro, Kisahmu Kini

- Sabtu, 29 Januari 2022 | 16:53 WIB
Kondisi Situs Rumah Adat Parona Baroro usai dilahap sijago merah yang diawali dengan 13 bunyi petir. (VN/FRENGKY KEBAN)
Kondisi Situs Rumah Adat Parona Baroro usai dilahap sijago merah yang diawali dengan 13 bunyi petir. (VN/FRENGKY KEBAN)


VICTORY NEWS SUMBA TIMUR - Situs Rumah Adat Parona Baroro adalah salah satu Situs rumah adat di Sumba Barat Daya (SBD) yang berlokasi di Desa Waikaninyo-Kecamatan Kodi Bangedo. Untuk mencapai Situs rumah adat tersebut, para pengunjung harus menempuh jarak hampir 40 menit dari Tambolaka, Ibukota Kabupaten SBD.

Memang harus diakui, Situs Rumah Adat ini tidak setenar situs rumah adat lainnya di SBD maupun Sumba umumnya. Tapi jangan salah, situs rumah adat ini merupakan salah satu yang tertua di pulau Sumba yang terus menjaga tradisi budayanya hingga saat ini.

Tidak hanya dari sisi budaya, kampung ini juga menampilkan pemandangan yang cukup unik yang dimulai sesaat sebelum kita memasuki areal perkampungan. Para pengunjung akan disuguhkan dengan deretan kuburan batu yang berjejer di sisi kanan dan kiri jalan. Tidak hanya di luar kampung, di areal perkampungan pun demikian.

Baca Juga: PBSI Panggil Atlet-Atlet Terbaik untuk Bersaing di Level Internasional

 

Dikutip dari victorynews.id dengan judul "Angka 13 dan Parona Baroro Sisi Lain Terbakarnya Kampung Adat di Sumba"

Deretan kubur tua dan sudah berumur ratusan tahun pun tampak kokoh berdiri di tengah kampung mengelilingi Natar (Tempat Ritus Adat). Pemandangan ini akan disempurnakan dengan berdirinya 14 rumah adat di sekiling kampung yang beratapkan alang-alang yang sudah menua dan berwarna kuning kecoklatan.

Tidak hanya itu, kekhasan kampung ini pun diperkuat dengan ritus Pasola yang wajib digelar di Pulau Sumba bagian barat dimana dalam ritus ini masyarakat yang bermukim di Parona Baroro juga diwajibkan untuk menyelenggarakan Pasola yang dberi nama Pasola Homba Kalayo.

Kampung Para Panglima Perang

Sejarah mencatat, kampung ini tidak berdiri sendiri. Dia merupakan kampung mekar dari Kampung Wai Ndimu. Alasan pemekarannya cukup beralasan yang dimulai dengan kurang luasnya lokasi/halaman Kampung Wai Ndimu seiring bertambahnya penduduk hingga mencari suasana baru.

Namun demikian, kampung ini punya kebiasaan unik yang diyakini masyarakat sebagai kekuatan kampung yang dimulai dengan kebiasaan menyimpan rambut dan pusar anak yang baru lahir di lubang batu dekat mata air Wai Tarara. Tidak cukup sampai disitu, kampung ini secara turun temurun telah diberi peran Kepala Keamanan atau panglima perang pada Suku Mahemba yang ketuai oleh Rato Kedu.

Baca Juga: DK PBB Segera Lakukan Pertemuan Terbuka Sikapi Perilaku Mengancam Rusia

Halaman:

Editor: Jumal Hauteas

Tags

Terkini

Mari Mengenal Ritual Padeta Ai di Sumba Tengah

Senin, 11 April 2022 | 20:59 WIB

Objek Wisata Laguna Weekuri Sepi Pengunjung

Kamis, 3 Maret 2022 | 19:06 WIB

Inilah 5 Destinasi Wisata di SBD yang Wajib Dikunjungi

Sabtu, 19 Februari 2022 | 08:32 WIB

Mau Nonton Pasola di SBD? Ini Jadwalnya

Kamis, 3 Februari 2022 | 05:49 WIB

Pasola Lamboya Sempat Diwarnai Aksi Lemparan Batu

Rabu, 2 Februari 2022 | 10:13 WIB
X