Parona Baroro, Kisahmu Kini

- Sabtu, 29 Januari 2022 | 16:53 WIB
Kondisi Situs Rumah Adat Parona Baroro usai dilahap sijago merah yang diawali dengan 13 bunyi petir. (VN/FRENGKY KEBAN)
Kondisi Situs Rumah Adat Parona Baroro usai dilahap sijago merah yang diawali dengan 13 bunyi petir. (VN/FRENGKY KEBAN)

Imbasnya, dari kampung ini sangatlah disegani oleh suku-suku lainnya karena mempunyai kemampuan pada masa dulu. Bahkan di kampung ini ada salah satu rumah yang dikhususkan sebagai Rumah tempat menyimpan kepala para lawan perang (yang telah dipenggal). Rumah itu biasa disebut Umma Katoda.

Semua cerita itu adalah bukti kalau situs rumah adat Parona Baroro bukan hanya sekedar rumah situs yang diyakini masyarakat sebagai pengingat leluhurnya saja atau juga tempat digelarnya ritual adat namun lebih dari pada itu situs rumah adat ini adalah kehidupan masyarakat itu sendiri yang masih percaya bahwa diluar kekuatannya ada kekuatan lain yang bisa memberikan mereka kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga: 7 Warga SBD Terindikasi Terpapar Covid-19

Tidak mengherankan jika kebakaran yang melanda kampung itu pada kamis 13 Januari lalu masih membekas diingatan masyarakat penghuni kampung hingga hari ini. Raut muka sedih benar-benar terpancar dari wajah mereka walaupun saat ada pengunjung dari kampung lain hadir untuk melihat lebih dekat kondisi kampung pasca kebakaran, mereka masih sempat-sempatnya melempar senyum.

Iya senyum menjadi tanda bahwa mereka sedang baik-baik saja saat itu tapi tidak dengan hati mereka. Mereka hancur. Mereka rapuh. Mereka terguncang bahkan sulit kembali seperti dulu lagi. Mereka kehilangan sebagian dari diri mereka. Peninggalan nenek moyang dan leluhur mereka raib dimakan api.

Baca Juga: Bupati SBD Janji Siapkan Titik Pengambilan Pasir Laut

Begitupun dengan taring babi maupun tanduk kerbau lambang kebesaran suku harus hilang menjadi abu. Bahkan rumah yang dibangun dengan biaya yang tidak sedikit itu kini hanya menyisahkan puing-puing  berarang dan argh....sudahlah. Semua sudah terjadi. Toh namanya musibah. Dia  datang tanpa diminta dan hadir tanpa diduga.

Mereka kini hanya bisa mengingat kalau kampung mereka yang terdiri dari Uma Katoda, Uma Kahumbu, Uma Ripi B, Uma Kaboko, Uma Kahumbu B, Uma Ripi A, Uma Pulung dan Uma Kadeni pernah mengalami kebakaran hebat yang membuat mereka trauma.

13 Kali Petir

Kebakaran hebat yang dialami situs rumah adat Parona Baroro tidak tanpa sebab. Diawal semua terlihat biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Hujan yang turun kala itu dianggap warga biasa saja begitupun dengan petir yang menyertainya. Bahkan petir yang terjadi hingga 12 kali dianggap warga sebagai hal yang lumrah tapi semuanya berubah saat petir ke 13 menggelegar.

Asap mulai muncul di Uma Katoda yang menjadi rumah dengan bumbungan tertinggi diantara semua rumah yang ada sebagaimana yang disampaikan oleh tetangga rumah Donatus Ndara Kedhe.

"Saya hanya bisa lihat asap tidak lihat apinya. Mungkin dia terbakar dari dalam. Dan kebakaran itu memang terjadi begitu cepat dan mau tidak mau saya sendiri tidak lagi berpikir memadamkan api di umma katoda. Saya hanya berpikir bagaimana menyelamatkan barang-barang di dalam rumah saya,"katanya.

Baca Juga: Berkelakuan Baik, 26 Napi di Lapas Waikabubak Terima Asimilasi

Pengakuan serupa pun disampaikan oleh tokoh adat setempat, Paulus Uru Awa. Diceritakannya, saat kejadian dirinya sedang berada di rumah yang letaknya tidak jauh TKP. Sebagai pembesar kampung dirinya memang sudah memiliki firasat buruk kala petir terjadi untuk ke 13 kalinya. Hal ini ungkapnya dikarenakan bunyi petir saat itu berbeda dengan sebelumnya.

Walaupun tidak bisa menyelamatkan semua yang menjadi milik warga kampung juga beberapa benda pusaka nenek moyang, setidaknya  Paulus bisa bernafas lega pasalnya tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Dan untuk memastikan semua warga kampung aman, dirinya bersama para rato pasca kebakaran telah melakukan ritual keluarkan petir dari kampung.

Ritus ini bertujuan untuk mengusir atau mengeluarkan petir dari dalam kampung itu. Dengan demikian masyarakat dalam kampung kembali beraktivitas seperti biasa tanpa merasa takut. Berdasarkan tradisi adat istiadat setempat, gelar acara tersebut dipimpin oleh tua adat (rato petir).

Halaman:

Editor: Jumal Hauteas

Tags

Terkini

Air Terjun La Iwi Cocok Untuk Liburan Keluarga

Minggu, 29 Mei 2022 | 10:49 WIB
X