Menparekraf Ingin Desa Wisata Limbo Wolio Sultra Terjaga Kelestarian Lingkungannya

- Kamis, 9 Juni 2022 | 12:25 WIB
TANGKAPAN LAYAR Menparekraf Sandiaga Uno (kemenparekraf.go.id)
TANGKAPAN LAYAR Menparekraf Sandiaga Uno (kemenparekraf.go.id)

VICTORYNEWS SUMBA TIMUR - Menparekraf Sandiaga Uno berpesan kepada seluruh masyarakat desa Buton agar dapat mempertahankan kelestarian dan keberlanjutan Desa Wisata Limbo Wolio yang berada di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Saat melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Tenggara untuk visitasi Desa Wisata Limbo Wolio yang masuk ke dalam 50 besar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesi (ADWI) 2022.

Baca Juga: Bertemu Paus Fransiskus, Menag Sampaikan Undangan Presiden Jokowi

Sandiaga mengatakan Desa Wisata Limbo Wolio yang berada di puncak bukit Kota Baubau memiliki benteng terbesar di dunia dengan luas 23,3 hektare.

Kemudian telah tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan Guinness Book of World Record pada 2006.

"Desa Wisata Limbo Wolio ini merupakan lokasi benteng terluas di dunia, kita harus jaga, lestarikan dan untuk menjaganya ini melibatkan masyarakat, pemerintah, dan seluruh unsur pentahelix," kata Menparekraf Sandiaga, Rabu (8/6/2022).

Baca Juga: Ganjar Pranowo Dukung Penundaan Kenaikan Harga Tiket Masuk Candi Borobudur

Benteng Wolio awalnya dibangun oleh Raja Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Kaimuddin pada abad ke-16.

Benteng tersebut hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu karst yang disusun mengelilingi komplek istana untuk mambuat pagar pembatas antara komplek istana dengan pemukiman masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan.

Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Wolio memberikan pengaruh besar terhadap eksistensi kerajaan.

Baca Juga: Pengadilan Arbitrase Olahraga Tolak Gugatan Target Eleven Terhadap PSSI

Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh.

Benteng Wolio sendiri memiliki 12 pintu gerbang yang disebut 'Lawa' dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut 'Badili', 4 boka-boka (bastion berbentuk bulat), batu tondo (tembok keliling), parit, dan alat persenjataan.

Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik pada zamannya.

Baca Juga: Presiden Jokowi Berangkat ke Wakatobi, Hadiri GTRA Summit

"Namun kualitas dari batu di Benteng Wolio ini perlahan akan tergerus, harus ada konservasinya, karena yang harus diperhatikan adalah aspek keberlanjutannya," kata Menparekraf Sandiaga.

Menurut Keterangan Ketua Pokdarwis Dadi Mangora Keraton Molagina Maman di dalam Masjid Agung Kesultanan Buton ini sarat akan makna.

Sebut saja jumlah anak tangganya ada sebanyak 17, menandakan jumlah rakaat salat. Lalu untuk panjang bedugnya 99 cm, melambangkan asmaul husna dan pasaknya berjumlah 33 sesuai dengan jumlah tasbih.

Baca Juga: Pemain Terbaik Eropa, Ricardinho Resmi Gabung Tim Futsal Indonesia Pendekar United

Selain Benteng Wolio yang menjadi warisan budaya nusantara, terdapat beragam unsur atraksi wisata menarik.

Diantaranya Kande-Kandea, Posipo, Alana Bulua, Dole-Dole, Tandaki, Haroa, Qadiri, Qunua, Tembaana Bula, serta berbagai permainan tradisional.

Namun, atraksi tersebut hanya bisa dinikmati pada waktu tertentu, tergantung tradisi masyarakat Buton serta pada setiap event budaya lainnya di Kota Baubau.

Baca Juga: Kementerian PUPR Gelar Prsoes Penjurian Tahap I Sayembara Konsep Kawasan dan Bangunan Gedung di IKN Nusantara

Dengan potensi desa wisata yang begitu besar, Menparekraf Sandiaga berharap kesejahteraan masyarakat bisa meningkat dengan semakin terbukanya peluang usaha dan lapangan kerja melalui pengembangan desa yang berkelanjutan.

"Ini merupakan suatu prestasi tapi harus dijaga, harus dipertahankan dan harus bisa menyejahterakan masyarakat," kata Menparekraf.

Baca Juga: Gubernur NTT Tantang PT Misi Kasih Toserba Hadirkan Pilot Project Pertanian di TTS

Walikota Baubau, La Ode Ahmad Monianse menyampaikan terima kasih kepada Menparekraf yang telah berkenan hadir memberikan dorongan serta motivasi kepada masyarakat Buton dalam mengembangkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

"Semoga dengan pariwisata Indonesia bisa bangkit setelah masa pandemi dan kita raih kembali Kota Baubau sebagai kota yang maju, adil, dan sejahtera," katanya.***

Halaman:

Editor: Milia Dwiputri

Sumber: Kemenparekraf.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X